Senin, 22 Juni 2009

Pembuatan tumbuhan kebal hama dan insektisida bakteri

Mikroorganisme juga dapat digunakan untuk membasmi hama tanaman. Dalam peningkatan produksi makanan para ahli melakukan penelitian pada system pengendalian secara biologis, yaitu mencari musuh alamiah hama. Pada tahun 1887, pengetahuan ini diterapkan dalam menanggulangi hama dari Australia berupa insekta perisai (hama pohon jeruk) yang masuk ke California. Hama tersebut dicarikan musuh alaminya dari Australia, yaitu suatu spesies kumbang kecil yang disebut “lady beetle”.
Dengan melihat kenyataan yang terjadi pada hewan lain (misalnya insekta), tentu ada pula mikroba yang menyebabkan sakit pada hama tertentu tetapi tidak menyebabkan penyakit kepada makhluk hidup lain. Mikroba ini dapat dikembangbiakkan untuk dijadikan pestisida biologis.
Pada masa sekarang telah dikembangkan untuk diperdagangkan mikroorganisme yang dapat dipakai sebagai pestisida, antara lain :
1. Bacillus populliae untuk mengatasi kumbang Jepang dengan menularkan “penyakit susu”.
2. Bacillus thuringiensis membantu mengatasi larva ngengat dan kupu-kupu perusak.

Mikroorganisme yang diperlukan untuk pengendalian hama ini menginfeksi dan kemudian membunuh hama. Sekarang ini toksin yang dihasilkan oleh bakteri tersebut dapat dipelihara dalam kultur dan berfungsi untuk memberantas hama.
Virus juga mikroorganisme yang memberi harapan sebagai pemberantas atau pengendalian hama. Virus bekerja lebih efektif daripada bakteri karena bekerja hanya terhadap satu atau beberapa spesies dan tidak merusak organisme lain dalam lingkungannya. Kendala dari pengembangan virus adalah harus dikembangkan pada inang yang hidup, yang berarti kita harus memelihara spesies tersebut.
Akan tetapi sekali dilepaskan di lapangan infeksi itu akan menyebar secara alami dan korban awalnya dapat dipanen dikumpulkan dan dimusnahkan dan dipakai untuk menyebarkan virus di lokasi baru.
Virus telah berhasil digunakan dalam mengatasi insekta seperti hama ulat kapas (cotton boll worm), ulat kuncup tembakau (tobacco bud worm), lalat pinus Eropa, ulat kol dan ulat alfalfa.
Penggunaan insektisida kimia secara terus menerus untuk membasmi hama serangga dapat menyebabkan hama serangga tersebut menjadi kebal (resisten). Namun, dengan insektisida bakteri yang dibuat secara bioteknologi maka problem resistensi ini dapat diatasi. Selain itu, insektisida bakteri ini tidak berbahaya terhadap lingkungan.
Bakteri yang digunakan untuk membuat insektisida adalah Bacillus thuringiensis. Bakteri ini dapat membunuh ulat pemakan daun, larva kupu, dan lalat. Bacillus thuringiensis ini dapat menghasilkan racun yang disebut protein kristal insektisida (ICP). Racun tersebut menyerang saluran pencernaan hama, sehingga hama berhenti makan, dan akhirnya mati.
Cara pembuatan insektisida ini adalah sebagai berikut :
1. bacillus tadi dikulturkan dalam jumlah besar di tangki fermentor.
2. hasil fermentasi yang berupa ICP ditampung lalu dicampur dengan bahan yang lengket.
3. campuran tadi disemprotkan pada tumbuhan.

Hama yang memakan daun tumbuhan yang telah disemprot akan mati terkena racun bakteri.
Saat ini, ICP telah berhasil diterapkan pada ngengat yang menyerang buah pear, dan hama lain yang mnyerang kol, brokoli, sawi, dan kentang.
Selain disemprotkan, pemakaian lain dari bakteri ini adalah dengan rekayasa genetika. Caranya dengan memindahkan gen penghasil ICP pada bakteri ke plasmid tumor mahkota lalu memasukkan rekombinan tadi ke sel tumbuhan, dengan begitu tumbuhan akan secara aktif menghasilkan ICP sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar